Monday, 14 September 2015

Welcome September, Welcome Birthmonth

I think it's not too late to post about this

3/4 tahun

Merah muda lebih mendominasi saat memasuki bulan September. Bahagia diberikan kesempatan umur sampai saat ini. Meski bulan September berarti kami harus say goodbye to holiday :')
Hidup memang harus terus berjalan kan? Gak melulu putih, gak melulu hitam. Semua ada saatnya.

There's always something to be thankful for


Sudah semester 3 aja, perasaan baru lulus sekolah tahun lalu *eh *itu mah sama aja kan ya? haha
Jadi di semester 3 ini belajarnya harus semakin fokus (karena rajin aja nggak cukup. Dulu di awal-awal saya rajiin banget, ada tugas langsung diselesaikan, sampai dibawa ke kantor segala. Tapi lama-lama jadi males juga, rempong tapi pahamnya cuma sedikit. Jadi sekarang usahain belajarnya yang efektif. Meski dalam waktu yang tidak terlalu banyak bisa memahami lebih banyak materi.
Selain itu, kejadian yang lalu dijadikan pembelajaran. Jangan yang indahnya terus dikenang, stuck disitu. Dan jangan juga yang buruknya terus dicaci dan dipendam. Usahain aja, pokoknya jangan terulang lagi. Ganbatte! (>^ω^<)

3 Hari dan 2 Malam di Laut Lepas



Warning: Cerita perjalanan kapal 3 hari dan 2 malam ini hanya ditujukan bagi yang benar-benar penasaran dan punya cukup waktu senggang untuk membaca postingan ini.
Saya lumayan sering bertanya-tanya dalam hati saat menonton sebuah film atau membaca sebuah cerita, saat sang tokoh melewati waktu begitu saja, entah a few weeks later, three months later, sampe bertahun-tahun kemudian.

Apa kira-kira yang tokoh itu lakukan?
Mungkin penulis ingin memberi tahu kita bahwa si tokoh baik-baik saja selama waktu tersebut, semuanya berjalan biasa dan mengalir apa adanya.
Ya, waktu tak terasa terus berjalan, dan sang tokoh kembali melanjutkan kisahnya.
Saya kembali memikirkan hal tersebut sesaat sebelum meninggalkan Makassar, errr Pulau Sulawesi for the first time in my whole life *cah, bahasanya

Dan perjalanan kapal ini akan memakan waktu selama 3 hari dan 2 malam. Kalau cuma 2 malam sih gak terasa kita udah sampai di tujuan. Tapi realita berkata lain -_-
Setelah berpisah dengan Kak Eka dan keluarganya (namanya samaan, kakaknya Azizah) yang berbaik hati mengantarkan kami ke pelabuhan, kami pun bergegas masuk ke "halte" dan entah kenapa bukannya langsung naik ke kapal kitanya malah duduk-duduk di bangku. Barulah setelah ngeh, kita langsung angkat koper eh maksud saya carrier dan daypack masing-masing (iya kita backpackeran kak, edisi jalan-jalan mahasiswa dengan alibi adventuran).

Pas naik di atas KM Tilongkabila, Masyaallah. Syok banget pemirsa. Karena baru naik kapal untuk pertama kalinya, jadinya saya sangat bingung mau kemana, begitu pun dengan teman-teman seperjuangan saya, para cewek strong, cukup strong setelah apa yang mereka semua alami (intinya kita semua jomblo) dan cukup informasinya karena dikhawatirkan postingan ini terlalu oot dan terlalu baper jika membahas hal tersebut. *serius guys, ceritanya panjang dan mengharukan

Kami masih bingung mau kemana karena semua space di dek penuh dengan penumpang. Kami pun menaiki tangga yang juga sangat crowded. Dek kedua dan ketiga kami lewati begitu saja karena jelas terlihat sangat penuh. Sampai di dek empat kami mulai mencari tempat kosong. "Kapal kok ramai banget ya? Padahal keberangkatan 2 jam lagi". Begitu pikirku saat belum mengetahui bahwa kapal ini berlayar dari Minahasa dan saat sampai di Pelabuhan Makassar sudah hari ke lima. Di tambah dengan fakta saat itu memang lagi HIGH SEASON!!
Kami keliling di dek empat dengan cukup kesulitan karena koridor dipenuhi penumpang yang menggelar tikar, kami pun naik ke dek 5. Sampai di ekor kapal kami finally menemukan tempat kosong yang tidak terlalu luas tapi cukup untuk kami berlima. Kami menggelar tikar, menyusun carrier dan daypack dan duduk berjejer.
Sempat risih disini tapi diusahain gimana nyamannya. Cuma 3 hari 2 malam kan, pasti bisa lah.
Ambil hikmahnya juga, tempat kami berada cuma beberapa langkah dari musholla dan tempat wudhu, ada toilet juga sih tapi gak semua orang bisa pakai, gak tahu kenapa, tapi kata bapak-bapak di dekat kami toilet itu untuk para awak kapal dan tamu VIP saja. Jadi kalau kita mau ke toilet harus turun ke dek 3. Kita mah apa atuh.

Hikmah lainnya karena kita ada di dek bagian belakang, kami leluasa nongkrong melihat pemandangan, gak kepanasan, dan punya banyak teman ngobrol. Pemandangan apanya yang ada cuma laut dan laut. Eh jangan sedih, justru kita bisa melihat matahari terbit dan matahari terbenam (kapalnya kan ke arah selatan), serta melihat gugusan pulau-pulau kecil yang kami lewati.
Ada kejadian lucu bahkan saat kapal belum berlayar. Jadi di kapal tuh ada banyak asongan Dan yang bikin kami ngakak adalah teriakan teriakan bapak penjualnya. "Nasi ayam, nasi ayam, jangan pura-pura nda lapar" sesaat kemudian terdengar lagi, "Nasi ayam, nasi ayam, jangan pura-pura tidak dengar, jangan pura-pura miskin" hahah belum lagi penjual asongan lainnya, "Pop mie, pop mie, gratis garpu plastik", yaiyalah pak ada garpunya, mau makan pop mie pake tangan?
Sisa satu jam sebelum kapal berlayar, kami pun membuka snack pertama kami dan melihat-lihat rencana perjalan kami begitu tiba di Pulau Lombok. Banyak yang lalu lalang depan kami karena tepat di serong kanan kami ada tangga naik ke dek enam. Banyak yang berpakaian khas pendaki, mungkin mereka mau upacara 17-an di Puncak Rinjani, who knows? Soalnya kami udah hampir mirip pendaki tapi ternyata backpacker. Banyak juga bule-bule backpacker yang naik di kapal ini.
Tiba-tiba azizah berbisik sambil matanya mengarah ke lelaki yang berdiri di depan kami, "eh kayaknya kakak itu backpacker juga deh". Karena kakak itu terlihat sendirian dan sepertinya satu daerah juga karena naik dari Pelabuhan Makassar, kami pun menyapanya dan menawarkan tempat di sebelah kami. Masih bisa di toleransi jika ditambah satu orang lagi kok :D

Namanya kak Adrian, dipanggilnya Iyan. Kak Iyan baru saja lulus dari Fakultas Hukum UMI, dan Kak Iyan berencana untuk nanjak di Rinjani. Dia sendirian ke lomboknya tapi sudah janjian dengan temannya yang berangkat dari Semeru dan akan bertemu di Pelabuhan Lembar. Masih setengah jam lagi sebelum kapal berangkat. Kami bermain kartu Uno untuk menghibur diri akan rasa bosan menunggu keberangkatan pertama kami dengan kapal laut.
Peluit pertama terdengar, kami langsung menegakkan posisi duduk dan bertepuk tangan *astaganaga *maklum terlalu excited kitanya

Kami pun duduk melingkar dan berdoa bersama. Kami juga sempat update foto di Instagram, haha.
Kapal berguncang halus pertanda mesin kapalnya sudah bekerja. Perlahan tapi pasti kapal seberat 6400 ton ini mulai bergerak menjauhi Pulau Sulawesi.
Untungnya kami dekat dengan musholla jadi kami bisa sholat, numpang ganti pakaian (kita gak mandi selama di kapal untuk alasan tertentu), dan tentu saja numpang charging handphone.
Waktu di kapal laut sudah seperti di dalam kelas, sangat sangat terasa setiap menitnya. Ampun dahh. Setidaknya kami punya banyak pembahasan dan mengobrol panjang dengan Kak Iyan yang akan menjadi teman perjalanan kami sampai tiba di Pulau Lombok dan si Bapak Kurus berambut panjang, saya cukup menyesal untuk lupa nama beliau :(
Saat maghrib menjelang, laut membiaskan lembayung senja, membuat suasana lembut dan romantis. Kami akhirnya makan setelah Kak Iyan menawarkan hatinya eh makanan deng.  Haha. Bagi kami menu makan malam ini bisa dibilang mewah, dibanding makanan yang disediakan kapal.
Pop mie + ketupat + Ayam goreng + Kecap sambal.
Kurang apa lagi coba? Kami pun makan dengan lahapnya, what ever with jaim-jaiman.


Jurit Malam
Akhirnya malam pun tiba.
Saya sedikit lupa apa yang kami lakukan saat menghabiskan malam pertama di kapal tapi tak bisa lupa bagaimana rasanya kenyang angin laut. Saat malam ombak lebih kencang. Pengaruh gravitasi bulan. Angin yang berhembus pun tak sekedar angin. Untung percikan airnya terhalang tabung survivor. Tapi tetap aja dingin. Sudah pukul 9 malam, aku dan azizah duduk pinggir dek, sedang yang lainnya tertidur lebih dulu.
Selamat pagi.
Saya terbangun saat mendengar bunyi adzawn subuh tadi tapi belum bisa move on dari posisi wenak saya. Apalagi saya lihat musholla dan tempat wudhu sangat sangat sesak. Setelah akhirnya saya dan desma sholat subuh, pas keluar ternyata mataharinya sudah nongol.

Subhanallah ini adalah the best sunrise i ever seen. Hanya ada matahari berbatas laut. Kami hanya bersih-bersih dan sholat maghrib. Tak ada yang tergerak untuk mandi. Kecuali Kak Iyan! Huhu :'D
Kami sarapan buras, popmie dan sisa ayam goreng kemarin.. lumayan masih layak makan. Setelah makan sesuatu dalam tubuh ini bergejolak. So dizzy. Jadi saya minum antimo dan lucunya obatnya malah saya emut bukannya ditelan. Gimana rasanya bu? Pedesss. Lidah saya jadi mati rasa dan kepedisan.  Sambil meratapi lidahku yang mati rasa, saya pun tertidur.

10:57 am
Tilongkabila Tiba di Labuan Bajo 

Setengah penumpang kapal turun dan kami serta kak Iyan berpindah tempat ke dek yang lebih luas tapi masih berada di dek paling belakang.


12:31pm
Dan Perjalanan Masih Berlanjut

Kapal sudah berlayar kembali sekitar 40 menit yang lalu. Tapi jauh di belakang kami, pulau NTB masih terlihat. Kami berlima untuk pertama kalinya tertidur bersamaan. Tadi sempat mengeluh, soalnya kapal malah tambah sesak karena lebih banyak penumpang baru yang naik daripada penumpang yang turun. Ditambah penumpangnya lebih rese dari yang sebelumnya. Pokoknya serasa tidur di tengah- tengah pasar.

Ismi, Kawsar, dan Nurul sudah duduk- duduk di atas dek. Sedangkan saya dan Desma di bawah, jagain tempat kami yang beralaskan matras dan rain coatnya kak Iyan. Karena kalau tidak dijaga, bisa- bisa penumpang lain malah bikin lebih keki. Masa iya ada penumpang lain yang tidur di tempat kami. Terpaksa deh ya kami diam aja, meski Kak Iyan terpaksa mengungsi karena tempatnya dipake penumpang tersebut.

1:00 pm
Less Than 24 Hours Left

Kurang dari 24 jam kapal akan tiba di pulau Lombok. Tapi sekitar 3 jam lagi kapal akan transit di pelabuhan Bima. Entah kali ini banyak penumpang yang mau turun atau malah sebaliknya. Dua gadis yang kira-kira lebih muda setahun dua tahun dari kami, termasuk yang akan turun di pelabuhan Bima nanti. Saya lupa nama mereka tapi setahuku mereka baru saja tes masuk perguruan tinggi di Makassar.

Lapar tapi nikmat
Biasanya di rumah saya tidak terlalu banyak makan, paling cuma satu atau dua kali. Tapi entah kok sekarang jadi sering lapar ya.
Siang terakhir di kapal
Pertama kali lainnya kami makan makanan kapal. Nasi plus ikan dan sayur. Tapi kami cuma makan nasi dan ikannya dan ditambah sedikit abon. Enak, apalagi kondisi sedang lapar-laparnya. Rasanya pengen cepat-cepat sampai di Lombok.
 
Sudah 21 jam kami di kapal. Sudah terbiasa dengan suasana kapal dan kami mulai bete. Mungkin karena sedang bosan, lelah atau kebanyakan angin laut kami jadi se-badmood ini. Tapi ya ini emang kelas ekonomi, harus mandiri dan yang penting saling menghargai lah sesama penumpang. Kalau sudah seperti ini saya juga tidak nyaman bagaimana negurnya. Ah. Persetan dengan nyaman gak nyaman. Everythings gonna be allright.


1:54 pm
Hargai Proses Nikmati Hasil.

Begini ternyata rasanya backpacking dengan naik kapal. Sepertinya saya kebanyakan mengeluh deh hari ini. Yah mulai sekarang biasain diri aja. Di kapal banyak orang dari daerah yang berbeda-beda. Duh jadi kangen sama kantor. Kok kantor sih? Haha.
Angin siang lumayan sih, sepoi sepoi asik. Ngajakin tidur siang.
Kapal terus melaju, melaju, dan melaju membelah laut
Di kiri kanan kami sudah melihat daratan dan gunung (gak tau nama gunungnya apa)
Tidak lama lagi kapal akan sampai di Bima gaes.


8:36 pm
Malam Kedua

Kami baru saja selesai makan dan melanjutkan aksi ngeden bareng haha. Kami juga sempat mengecas hape di musholla (secara diam-diam tentu saja) dan berganti pakaian di bilik yang ada di musholla. Meski tak mandi, stay cool aja lagi. Sekarang kapal kembali melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Lembar, akhirnya.
Senang sekali setelah kami akhirnya bisa melihat daratan Pulau Lombok. Meski masih beberapa jam lagi, kami sudah berbenah, bersiap menyambut tujuan backpacking kami. Kami mulai melewati gugusan Gili barat (Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan).
Kapal pun merapat ke dermaga saat ashar tiba.

Sampai jumpa KM Tilongkabila, semoga bisa ikut perjalananmu lagi di lain waktu :) Postingan ini memang hanya menceritakan kegiatan kami di atas kapal laut, soal cerita perjalanannya nanti di postingan selanjutnya yaa

Sunday, 13 September 2015

Ekha & Plecing Kangkung



Plecing Kangkung --Kuliner khas lombok
Makanan yang satu ini..
Cukup misterius.
Menyita perhatian.
Bikin penasaran.
Punya banyak kenangan.
--2015



Puisi yang terdengar sangat lapar.
Saat itu hari ke empat kami di Lombok, sepulang dari keliling Kota Mataram diantar om, tante, dan sepupunya Desma, kami lagi-lagi di traktir. Plecing kangkung, salah satu makanan yang recommended banget kalau ke sini.
Kami berempat menunggu dibelakang ibu pembuat plecing. Yang saya perhatikan pertama sih kangkungnya ya. Enak nih kangkung. Namanya aja plecing kangkung, yaiyalah pake kangkung -_-
Sampai di rumah omnya Desma, kami pun bersiap-siap untuk memakan Plecing Kangkung pertama kami. Kawsar pun ke dapur mengambil piring dan sendok.
"Makan plecingnya tidak pakai sendok, pakai tangan, di aduk semua", kata tantenya Desma.
Haha maklum tante, baru pertama kali.

Desma, Azizah, dan Kawsar pun mulai menyantap plecingnya. Sedangkan saya makan setiap komponennya satu persatu secara random. Kangkung.. tauge.. lontong.. kelapa parut.
Alay bener yak? Iya haha. Soalnya rada khawatir. Khawatir kalau di mix begitu aja, nanti rasanya jadi mirip gado-gado. Dipostingan sebelumnya kan udah dibahas kalau saya phobia rasa gado-gado.
Pada kesempatan kedua, sebelum kami berangkat ke Bali, kami lagi-lagi di traktir plecing kangkung. Kali ini dibeli di penjual berbeda. Yang kedua ini rasanya lebih enak, dan tidak terlalu pedas seperti kemarin. Makannya makin enak ditemani dengan kerupuk kulit sapi. Tuh kan, sampai ngiler T_T di Makassar ada yang jual plecing nggak ya, haha.

Hallo Radio?

Hari Radio Nasional 11 September

Sekarang mau flashbackan jaman radio masih ngehitzz (sekarang masih kok, tapi ya beda dulu beda sekarang kan?) Dan banyak program radio yang menawarkan emm.. anu.. pokoknya banyak acara yang bisa melibatkan pendengar dengan sambungan telfon.

Dan kelas 2 SMP adalah saat dimana gue sering banget nelfon iseng di radio.
Saat itu gue masih pake hape cdma sehingga lumayan murah kalau disambung ke nomor lokal. Biasanya gue kalau ada tugas sekolah langsung diselesaikan disekolah atau dirumah setelah makan siang, jadi kalau sudah malam gue gak ada kerjaan lagi, paling cuma baca buku atau cuci piring. Nah, daripada nonton sinetron gak jelas juntrungannya, saya pun menyalakan radio. Kebanyakan dapat siaran yang memutarkan lagu-lagu remaja yang ngehits, seperti kerispatih, terry, bcl, vierra (dulu gue haters vierra, alasannya cukup jelas ). Suatu hari gue nemu siaran "DUNIA DONGENG" yang ofc muterin lagu anak-anak dan ditutup dengan pembacaan dongeng pengantar tidur.
Gue yang saat itu masih anak smp yang basically masih suka lagu chilhood, jadi langganan siaran Dunia Dongeng. Ditambah lagi banyak lagu anak" Icil yang sering diputar. Icil tuh Idola C*lik, ampun maak, iye iye gue akui gue emang ngalay pada masa itu.

Salah satu bagian penting dari program radio Dunia Dongeng adalah sesi telfon-telfonan. Rata-rata yang nelfon sih anak-anak kecil imut, polos, gemesin, bahkan ada yg belum jelas ngomingnya. Awalnya sih gue cuma kirim sms-sms kirim salam dan request lagu. Sms gue dibaca pun gue udah seneng, apalagi kalau requestan lagu gue diputerin. Iya udaah kalo mau ketawa, ketawa aja, setidaknya gue punya kenangan untuk ditertawakan :p emang situ gak punya? Kesian.
Tapi lama-lama gue mulai terdorong, tertarik, terbanting, dan terlempar untuk mulai menelfon. Gue pun mulai menekan tombol dial, dikelilingi adek dan sepupu sepupu gue, sambil lesehan di depan radio. Seseorang di ujung sana mengangkat telfon.

Dan itulah pertama kalinya suara gue muncul di radio. Gue bicara sama kakak penyiarnya sambil sesekali tertawa tertahan, tapi ditegur sama kakaknya, disuruh kecilin volume radionya dulu soalnya suara gue bergema karena gelombang radio. Yaudah sekalian dimatiin. Setelah salam-salam dan request lagu, gue pun pamit dan menutup telfon. Sejak hari itu, kehidupan kakak penyiar jadi lebih berwarna *eh haha jadi sejak hari itu tuh aku hampir setiap hari nelfon radionya, kadang gantian bicara sama adek sepupu gue. Sumpah demi apa kalau ingat waktu itu gue gak habis pikir. Sampai kakak penyiarnya hapal betul suara gue. Kok bisa? Iya suatu hari gue ketahuan nelfon dua kali, yang pertama nelfon kayak biasa, yang kedua nelfon tapi nyamar jadi orang lain, gue pake nama teman kelas gue padahal teman kelas gue juga dengar siaran waktu gue nelfon tapi pake namanya dia, untung dia gak marah, haha.


Salah Sambung
Ya. Hampir semua orang pernah mengalaminya baik sengaja maupun tidak. Siapa sih yang enggak? Tapi salah sambung terparah yang pernah gue alamin saat gue masih kelas 1 SMP.
Waktu itu mama menyuruh untuk telfon salah satu tante gue di wartel (warung telfon) terdekat. Berhubung gue gak hafal nomornya, gue diberi secarik kertas yang bertuliskan nomor si tante.
Dial pertama sibuk.
Dial kedua masih sibuk.
Telfon akhirnya tembus setelah dial ketiga.
"Halo tan.."
"Halo, selamat malam, radio blabla, ucapkan paswordnyaaa.." (Anjay. Disini gue belum ngeh kalau gue salah sambung)
"Tante? Ini saya lho"
"Saya? Haha ini dengan mbak siapa?"
"Ekha.."
"Ya, mbak Ekha silahkan apa passwordnya?"
"Mas, tante saya ada disitu nggak? Saya mau bicara"
"Tante? Mbak cari siapa?"
(Penyiarnya ngakak di atas kebingungan gue)
"Mbak kayaknya salah sambung deh"
"Tapi ini benar 0411-xxxxxx kan?
"Iya mbak, tapi ini radio blabla"
Klik. Gue tutup telfon itu seketika.
Malu beneer dah.


Chitchat Radio
Ini pengalaman gue yang ke sekian kali menelfon acara radio. Saat itu ujian semester sudah lewat jadi tidak banyak kegiatan belajar mengajar, cuma tunggu nilai keluar. Sorenya gue nganggur gak tau mau ngapain, pokoknya garing banget. Akhirnya gue memutukan untuk mendengarkan radio. Gue cari siaran lagu yang enak biat mellow sore-sore, setelah dapat gue pun duduk sambil minum teh. Pas lagunya abis, ada sesi chitchatnya. Yah ternyata kebiasaan gue kambuh. Waktu itu topik perbincangannya adalah film bioskop yang paling berkesan dan alasannya (kayak soal fisika aja disertai penjelasan -_-). Parahnya, telfonnya tembus padahal gue cuma iseng.
"Selamat sore. Dengan siapa dan dimana?" Sapa penyiar cewe dengan manisnya.
"Ekha di Makassar"
"Kalau di dengar-dengar suaranya masih muda nih, mbak Ekha usianya berapa?" Penyiar cowo nanya-nanya soal usia segala.
"14 tahun"
"Wah bener kan, masih muda" (Trus?)
"Ekha sharing dong film bioskop yang paling berkesan dan kenapa"
Film ya.. hmm
"Sang pemimpi kak, saya suka, kemarin abis nonton"
"Ohya? Gimaba ceritanya" (Idih, mbak penyiarnya minta spoiler gratisan)
"Ya gitu mbak, bagus kok" jawab gue sekenanya.
"Emang filmnya bercerita tentang apa?"
"Tentang anak muda kak"
"Udah gitu doang?"
"Iya gak nonton full juga"
"Kenapa gak sampai full", kepo banget kakaknya
"Soalnya pas di akhir-akhir, kebelet pipis"
Sepasang penyiar itu pun tertawa.
"Sayang ya kebelet pipis jadi ada yang terlewat"

Jirrrr, mereka tertawa, padahal gue jawabnya dengan sungguh-sungguh.
Udah deh ah gue jadi baper ingat dua penyiar tadi. Begitulah pemirsa, gue dan radio pernah membuat kenangan bersama. Although that almost of the memories hmm how to say that.. weird but funny. Haha. Tapi jujur gue selalu rindu dengar radio. Apalagi kalau dibandingkan nonton siaran tv negeri. Lebih mirip kebun binatang haha.

And last.. selamat hari radio.
Dengar radio, semoga bisa meredam segala kerinduan (>^ω^<)