Tuesday, 22 March 2016

Saengil Chukkaeyo Daehan Minguk Manse!

 
(Translate: Selamat Ulang Tahun Daehan Minguk Manse)
Udah rada telat sih, ulang tahun mereka 16 Maret kemarin. Tapi gakpapakan ya. Maklum Noona yang satu ini sibuk T_T


Siapa mereka? Basa basi sih, siapa juga yang gak kenal Song Daehan, Song Minguk, dan Song Manse, si kembar tiga alias triplet. Anak dari aktor Korea Song Ilkook (Appa Ilkook) dan Jung Seung Yeon, yang berprofesi sebagai hakim sehingga keluarga Song memutuskan untuk tidak mengekspos sang omma.

Sungguh nggak ingat awalnya bagaimana sampai jatuh cinta dengan mereka, aw. Etapitapi, emang siapa sih yang bisa menolak pesona bayi kesayangan rakyat Korea ini?


Di tengah kesibukan saat ini (huekk) saya sudah mulai kudet seputar Kpop, Kdrama, Kvariety show (intinya yang berbau Korea-koreaan deh), terakhir update kalo enggak salah 4 tahun yang lalu (kelas 2 SMK) jadi bisa ditebak koleksi Korea-korean (entah Mp3, MV, Variety Show, Live Concert) di laptop rata-rata keluaran 2012. OMO. Selain alasan syibuk, alasan lainnya karena saya mulai berubah haluan dari Timur ke Barat (tjiaah). Namun saya masih sempat mengikuti perkembangan Song Triplets via Youtube atau kadang curi-curi nonton KBS di kantor.

Kembali ke Song Triplet~

Song Triplet lahir 16 Maret 2012, jadi tahun ini mereka sudah berusia 4 tahun, namun menurut kalender Korea usia mereka sudah 5 tahun (tahu kan, kalau di Korea usia seseorang sudah dihitung 1 semenjak lahir). Huah sedikit sedih juga, agak gak rela Song Triplet makin besar. Masih mau melihat kelucuan mereka lebih lama.

Kalau ditanya siapa yang paling favorit, saya nggak mau jawab ah, soalnya mereka bertiga special on their own way.

The Reliable Daehan 
Kalau nonton The Return of Superman, pasti tau banget kalau Daehan ini "Appa Ilkook's Number 1 fans". Yup, Daehan (yang nama panggilan kesayangannya Dyani) sangat sayang dengan Appa-nya. Dyani sering bertanya "Appa gwaenchanayo? (Ayah baik-baik saja?)". You can see that Daehan is the mature one. Dalam suatu wawancara, Appa Ilkook pernah bilang kalau dia dan isterinya kadang merasa bersalah, saat perhatian mereka terkuras untuk kedua adiknya, Minguk dan Manse, sehingga Daehan kadang terpaksa untuk melakukan suatu hal sendiri.

Daehan juga sering membantu Appa Ilkook saat mereka bepergian dengan menggandeng tangan salah satu adiknya, hingga membantu Appa membawa barang, How cuuute! Fakta lainnya Daehan saat berusia 3 tahun sudah harus memakai kacamata, karena ternyata dia miopi sama kayak orangtuanya :( kasian adikku yang satu ini. Jadi sama kayak saya dong, pakai kacamata min.


The Cutest Minguk
OMO. OMO. OMO. Semua pasti setuju dong kalau Minguk dinobatkan sebagai Lady killer dengan senyum manis mautnya? Apalagi Minguk ini punya pipi paling chubby yang minta digigit. Haha kok ngomongnya jadi over gini ya? Tapi seriuss, Minguk ini lebih kuat dari sakarin, Masyaallah. Kalau Daehan adalah titisan Appa Ilkook, kayaknya Minguk ini lebih ke omma-nya deh, walaupun kemunculan omma-nya rada misterius, tapi sekilas bisa dilihat kalau kecantikan Minguk dari sang omma.

Seperti tak cukup menghipnotis dengan senyumnya, Minguk juga jago nyanyi. Kadang saya heran Minguk yang usianya 2-3 tahun bisa sampai hafal banyak lagu anak-anak. Dia juga hafal nama-nama dinosaurus. Mungkin karena punya kepala paling gede, makanya ingatan Minguk sangat tajam, haha. Gak tau deng, Minguk paling berat karena makannya buanyak banget. Beneran buanyaaak, porsi makannya sama dengan saya malahan. Oh iya, nama panggilan Minguk dari saudara-saudaranya adalah Kkukkuk, so sweet.


The Free Spirit Manse
Gak tau mau mulai mendeskripsikan Manse ini dari mana. Bener-bener dah Manse. Cute level expert! Di suatu wawancara, PD Return of Superman di awal-awal syuting Song Triplets sampai mengatakan "Manse sempurna untuk acara TV". Manse biasanya sering mengompori kedua kakaknya untuk membuat onar Appa-nya geleng-geleng kepala. Sangat bersemangat, gak bisa diam, namun berhati lembut. Manse atau yang biasa dipanggil Mance oleh saudara-saudaranya, akan ikut menangis saat kedua saudaranya menangis, meski gak tau alasannya apa, aw so adorable. Fakta lainnya, Manse ini paling sering diikuti anak-anak cewek (baca:populer), hihi.
Manse terobsesi dengan mobil, sampai iseng duduk di kursi pengemudi dan memainkan setir, kalau sudah begitu Daehan lah yang akan menegurnya "Appa yang akan mengemudi!". Cerita agak sedih dari Manse, dulu saat di kandungan, dokter pernah menyarankan omma-nya untuk menggugurkan Manse, namun omma-nya terus bertahan, yakin bahwa ketiga bayinya akan lahir dengan selamat. Dan mereka memang tumbuh dengan baik sekarang :) Ganteng-ganteng kan? Iyalah Song Ilkook gitu loh.

Gara-gara keseringan nonton The Return of Superman (tapi lebih banyak yang episode Song Triplet aja), saya sampai merasa dekaat sekali dengan mereka. Belakangan saya baru sadar Appa Ilkook ini yang dulunya main di drama Jumong hahaha apa-apaan saya ini. Tapi selain Song Triplets saya juga suka sama beberapa cast lain di TRS, seperti Cho Sarang dan Um Jion. Terimakasih deh buat variety show ini, karena saya banyak belajar tentang keseharian anak-anak disini, terutama dari Appa Ilkook, banyak yang kagum cara parentingnya yang unik :D

Kadang enaknya nonton variety show ini, mood yang tadinya udah dibawah limit, bisa berubah jadi membaik. Ada kesenangan melihat kepolosan anak-anak yang masalahnya paling soal takut dihukum Appa gara-gara berisik.

The last but not least

Saengil Chukkae Hamnida
Saengil Chukkae Hamnida
Saranghaneun uri Daehan Minguk Manse
Saengil Chukkae Hamnida

Wednesday, 9 March 2016

Bocah Sinetron yang Kabur Dari Rumah


"Di rumah ini gak ada yang ngertiin aku. Papa juga lebih belain mama tiri, huh, lebih baik aku kabur aja dari rumah"
Dasar bocah sinetron.

Sudah banyak sinetron dengan cerita klasik dimana ada seorang anak yang tidak betah dirumah, entah itu karena aniaya batin maupun fisik, lebih suka dunia luar, kawin lari, hingga cuma karena manja, keinginannya tak dipenuhi orangtuanya.

Dulu waktu masih kecil, masih imut-imutnya, saya biasa melihat "konflik" khas sinetron yang episodenya puanjang benerr. Bukan karena suka.. Tapi terpaksa karena tak kuasa untuk mengalah dari nenek, mama, hingga tante. Meski sinetron jadul masih terbilang lebih "aman" daripada sinetron jaman sekarang, tetap saja ada berbagai hal "menggelitik" yang bisa kita temukan. Yang namanya drama, ya, drama!

Selain Desember, Maret Juga Tak Kalah Sendunya


image courtesy: pinterest.com


Setelah semua keriuhan tahun 2015 berlalu (salah satu tahun terbaik, tersibuk, dan terbaper), sampailah kita di tahun 2016, wait wait.. Kayaknya sudah too late BANGET deh bahas pergantian tahun. Haha. Iya tau kok, apalagi sekarang sudah memasuki bulan maret, artinya sudah seperempat tahun terlewati. How time flies!

Rasa-rasanya baru kemarin bersyahdu ria di bulan Desember, dan sepertinya hal yang sama juga berlaku di bulan ini. Kompak banget ya mereka ini. Minggu pertama bulan ini saya lalui dengan banyak kejadian enak dan tak enak. Sepertinya bulan ini akan terasa panjang.

Salah satu pelarian terbaik, tentu saja, membaca. Saya sudah membaca beberapa buku (sok keren sekali saya ini, haha) seperti Rindu dan Kau Aku dan Sepucuk Angpao Merah oleh Tere Liye, Jalan Raya Pos, Jalan Deandels oleh Pramoedya Ananta Toer, Sherlock Holmes The Hound of The Baskerville oleh Sir Arthur Conan Doyle, dan beberapa opini sastra di forum elektronik. Beberapa di antaranya saya baca sambil lalu, kemudian kembali tenggelam dengan kesibukan "dunia nyata".

Sekarang ini saya harus makan banyak! Saya butuh banyak energi karena banyak kejadian seru menanti, akan lebih banyak emosi terkuras, dan terakhir, walau sebenarnya sudah ideal massa 45 kg untuk 157 cm, saya mau naikin berat badan! Haha

Sampai jumpa di bulan sendu berikutnya~

Markis kido, Taufik Hidayat dan Pete-pete Sudiang

Timeline sudah mulai reda sejak beberapa hari yang lalu banyak beredar berita tentang Markis Kido, salah satu atlit bulu tangkis favorit saya sejak SD, terkait 'cekcok' dengan bupati Sidrap di GOR Sidrap. Bukan main nih bang Markis Kido. 

Saya jadi ingat tahun 2009 lalu (saat itu saya masih kelas 8 SMP). Mendengar kabar atlit bulu tangkis nasional akan bermain di GOR Sudiang Makassar, saya bersama teman-teman saya yang juga ngefans berat dengan atlit bulu tangkis, sebut saja seperti Taufik Hidayat, Lilyana Natsir, Hendra Setiawan, Pia Zebadiah, Greysia Polii, Vita Marissa, Simon Santoso (OMG Simoon!), dan tentu saja Markis Kido. Kami sampai rela-relain naik angkot ke GOR Sudiang. Jarak itu sudah jauuuh sekali untuk ukuran kami. Beruntung ada salah satu teman sekelas kami, Widya, yang tinggal di Sudiang.

Demi memuaskan hasrat kami bertemu idola (terutama Taufik Hidayat! Sangking ngefansnya, nama belakangku sering saya pelesetkan menjadi namanya, Ekha Nurul Hidayat), hari minggu pagi saya ditemani Iin, Kiki, Ikha, dan Tisha berkumpul di jembatan penyeberangan di Jalan Urip Soemohardjo, mengambil pete-pete, sebutan lokal untuk angkot, menuju kawasan Daya. Kami berencana ke rumah Widya terlebih dahulu.

Pete-pete terus melaju menjauh entah kemana. Karena di antara kami berlima, belum ada yang pernah naik pete-pete ke Daya, kami, remaja tanggung 13 tahun, sempat suudzon akan dibawa kabur. Apalagi di atas pete-pete cuma ada kami berlima dan pak sopir. Kecurigaan kami makin menjadi saat pete-pete memasuki daerah sepi yang kanan-kiri hanya hutan dan bangunan-bangunan tua. Kami berlima saling berpandangan dan berbisik.
"Kok lewat hutan-hutan gini ya?"
"Gawat kalau sampai kita dibawa kabur"

Kecurigaan kami semakin akut karena semenjak kami naik, pete-pete ini cuma sekali ngetem menunggu penumpang lain. Tapi penumpangnya sudah turun beberapa kilometer sebelumnya.
Saya pun memberanikan diri bertanya pada pak sopirnya. "Pak, kita sudah di daerah mana, ya? Sudiangnya sudah dekat gak, Pak?", yang ditanya diam sebentar sebelum mulai menjawab, "Iya ini sebentar lagi mau sampai, di Perumahan xxx toh? Lewat jalan pintas ini, buru-buru mau jemput penumpang carteran", jelas pak sopir. Kami cuma ngangguk-ngangguk seperti mainan di dasbor mobil. 10 menit kemudian pete-pete menepi di depan gerbang masuk perumahan. Fyuh, akhirnya sampai juga.

Tapi hal itu masih belum membuat kami lega karena sesaat setelah kami turun dengan sangat tergesa-gesa (masih parno bakal diculik), kami setengah berlari masuk ke gerbang perumahannya Widya, teriakan pak sopir menghentikan kami. Deg deg. Mungkinkah pak sopir berubah pikiran, menyuruh kami naik kembali, membawa kabur dan minta uang tebusan ke orangtua kami? Ya ampun, perutku langsung mules memikirkan hal yang tidak-tidak akan menimpa kami.

"Woy! Ongkosnya kurang"

Kami mematung dan saling melirik. Dengan sedikit mendengus kami membayar sesuai permintaan pak sopir. Sedikit keterlaluan, soalnya siapa suruh lewat jalan pintas yang bukannya lebih dekat tapi memutar jauh. Ah sudahlah. Kami pun segera mencari rumah Widya sebelum ke GOR Sudiang. Sudah tak sabar ingin melihat Taufik Hidayat. Realita kadang tak linear dengan ekspektasi.

Meski tak sempat bertemu Taufik Hidayat, namun kami cukup senang bisa melihat atlit nasional yang lain main beberapa set sebelum akhirnya kami pulang.

Ohya, sebenarnya tahun ini ada "kesempatan" lagi untuk menyaksikan atlit nasional andalan, tepatnya 14-19 Maret akan ada Djarum Sirnas (Sirkuit Nasional) Sulawesi Open seri II, di GOR Sudiang. Arg pengen banget kesana, tapi sama siapaa haha

Monday, 7 March 2016

Saya Tidak Lebih Baik (Uh-oh tolong Ekha lagi mellow!)



Saya hanya anak muda biasa.

Saya tak seperti penulis Darwis Tere Liye, yang menulis banyak kisah indah, setiap postingannya di facebook tak pernah absen dishare ribuan penggemarnya.
Saya (bisa juga dibilang) bukan netizan pintar dan cermat, yang dengan lugasnya mengomentari postingan di media social, kemudian mendadak jadi “guru sejarah”, bahkan ada yang dengan senangnya merendahkan Tere Liye serendah-rendahnya.
Goblok katanya? Orang goblok mana yang meladeni orang goblok segitu kerasnya?
Saya pun bukan fanatik partai (yang beritanya) merasa tersinggung.
Intinya saya bukan fanatik apapun dalam artian itu.

Saya hanyalah orang biasa, yang tidak punya “andil” apapun di dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Saya tau diri. Saya belum exist pada saat itu.

Saya hanyalah orang biasa, yang tentu saja akan (sangat) tersinggung saat keyakinan saya tak dihargai, terutama disini, kak, Negeri dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Saya hanyalah orang biasa, yang akan marah saat ada yang merendahkan Indonesia, kampung dan tanah air saya, meski pengetahuan sejarah saya tak sedalam Tere Liye dan para netizen “pintar” itu.

Sudah, jangan ditanya.
Saya hanya orang biasa yang tak tahu apa-apa

Cita-cita Naik Kereta Api






Naik kereta api ... tut ... tut ... tut 
Siapa hendak turut
Ke Bandung ... Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama
 

Bukan sekedar cita-cita masa kecil aja sih, soalnya sampai usiaku hampir genap 2 dekade, saya selalu penasaran bagaimana rasanya naik kereta. Entah itu kereta uap, kereta monorail atau shinkansen sekalipun, ingin benar rasanya menaiki kendaraan panjang bak naga besi, merasakan sensasi kecepatannya, mengintip di jendela di ujung gerbong kereta, angin menerpa kulit, dan yang lebih penting, merasakan perjalanan jauh ditemani banyak cemilan, secangkir kopi susu hangat, dan sebuah novel roman. Ahay, syahdunya!


Saya teringat pernah bercerita tentang cita-cita ini saat sedang d perjalanan ke suatu tempat, tahu kan, saat sedang berboncengan motor jarak jauh, agar tak bosan, kita sepakat untuk ngalor ngidul, membahas apa saja. Saat teman saya itu mendengar celotehan saya, dia hanya tertawa, entah tertawa mengejek atau apa. Tapi dia bilang, kedengarannya asyik, naik kereta api, gerimis turun dengan masygulnya, ditemani kopi hangat dan mendengar lagu mellow. Wah dapet banget tuh suasananya. Iya, suasana yang pas buat flashback! Bumm! Kami berdua langsung jatuh salto-saltoan dari motor. Haha enggak deng, bercanda, Astaghfirullah.

Kabar baiknya nih, di Sulawesi Selatan sudah ada rencana pembangunan trek kereta trans Sulawesi. Semoga pembangunannya lancer, hasilnya segera dirasakan penduduk, membantu mobilitas antar Provinsi, dan tentu saja.. gadis sendu menawan ini (ciahh) bisa mewujudkan cita-citanya naik kereta. Hayo, ada yang mau ikut jalan-jalan (nanti kalo pembangunan keretanya udah rampung! :p)