Monday, 26 September 2016

Keakuan Dirimu



Aku tahu bagaimana dirimu.
Bagimu, minggu ini berlalu dengan sangat cepat. Iya, rasanya cepat karena dirimu dengan segera ditelan segala kesibukan duniawi. Bangun tidur, belajar sedikit-sedikit atau menyelesaikan bacaan novel, kadang kerja tugas kalau malamnya tidak sempat atau kelupaan, berangkat ke kampus. Kalau pulang dari kampusnya siang, main dulu sebentar. Main apa aja. Kamu selalu punya cara membunuh waktu. Kalau pulang kampusnya sorean, langsung ke kantor.

Malam, jika yakin sanggup, rela-relakan begadang; baca buku, nonton film (tentu saja!), atau ngobrol ngalur-ngidul. Semau-maunya. Asal sanggup. Asal gak bikin bentrok jadwal untuk esok harinya. Asal dirimu baik-baik saja. Asal kamu senang kan?

Tunggu.

Kemudian apa?

Kebaikan apa yang kaulakukan untuk orang banyak? Semuanya hanyalah kepentinganmu semata. Apa yang kautunggu dulu? Gelar sarjanamu? Uang melimpah?

Lalu kapan?
Kapan waktu jedamu? Kapan kamu berdoa pada Tuhanmu? Kapan berterima kasih? Kapan meminta maaf pada Tuhanmu, pada makhluk-Nya yang telah kausakiti, pada dirimu sendiri yang kauzalimi dengan sepenuh hati? Apa sebenarnya yang kautunggu? Menunggu sampai tak ada lagi urusan duniawi? Rambut memutih? Lutut yang aus karena usia?

Ya, kapan?

Friday, 9 September 2016

Hancurkan, Ralph!






Saya lagi bosan dan bete ya ampun brooo makanya saya berhasil menulis lagi setelah beberapa minggu blog ubur-ubur dianggurin. Oh jadi saya menulis cuma kalau lagi bosan doang? Oh jadi menulis di blog hanya opsi ke sekian sekian gitu? Ya, ya, judge me now.
Tapi tadi saya serius bilang lagi bete. Ah kapan sih Ekha lu gak bete? *ihhaa’       
Serius  lo ini.
Mau tau karena apa?          
Tanyain dong..        
Yah? yah?
Hening..
Dan emang gak penting ditanyakan.

Kita balik ke jalan yang benar ya, topik pembicaraan yang sebenarnya.
Baiklah, jadi begini ceritanya:
Pernah kah kalian, di suatu hari yang cerah, kalian menyadari, merenung, hal baik apa yang sudah kalian lakukan untuk orang lain. Apakah kalian cukup baik untuk diingat di setiap pembicaraan yang menyenangkan, atau cukup disayangkan bila tidak sempat hadir di suatu pertemuan. Apakah kalian ini sebakul nasi atau semangkuk acar?
Kemudian pikiran buruk itu datang. Kita merasa kurang baik, merasa tidak berguna, merasa terpinggirkan, lalu merasa harus menyalahkan hidup yang tidak adil.
Mungkin itulah yang dirasakan Ralph.
Ralph yang hidup dalam program game, Wreck It Ralph –err ralat, game Fix It Felix.
Ya, adalah Felix yang menjadi karakter utama game tersebut, bukan Ralph. Jadi ngapain namanya Ralph yang nampang di judul game itu.
Tapi Ralph-lah yang menjadi tokoh utama di film animasi besutan Disney, Wreck It Ralph, bukan Felix.
Ralph adalah lelaki tradisional yang lahir, besar, dan hidup di hutan. Badannya besar, sesuai dengan tangan besarnya yang kuat. Baginya, hutan adalah segalanya –segala kebahagian yang bisa kausebutkan, ibunya, kekasihnya, rumahnya, permatanya, dan pelindungnya.
Kita tahu, sesuatu yang tradisional harus selalu berusaha keras untuk bertahan. Bertahan di tengah gempuran modernisasi. Dan segera itulah yang harus diterima Ralph, saat hutan  diinvasi orang-orang kota. Sebuah apartemen dibangun di situ!
Apartemen dengan penduduk yang berisik. Bayangkan betapa argh, betapa murkanya Ralph. Dengan tinjunya yang besar, Ralph merusak bata demi bata badan bangunan, menghancurkan jendela-jendela apartemen yang dihuni orang-orang kaya tersebut.
Di sisi ini, Ralph terlihat seperti monster penghancur, perusak kebahagiaan penduduk apartemen, orang jahat, orang buangan, orang rendahan, orang pinggiran, sebut apa saja sayang, di mata mereka itulah Ralph.
Ada Joker, ada Batman. Dimana ada penjahat, tentu saja ada pahlawan.
Penduduk apartemen akan berteriak memanggil Felix, si tukang servis dengan palu ajaib. Sekali ketuk, voilaa, bangunan yang telah dirusak Ralph kembali seperti semula. Setelah itu mereka akan mengelu-elukan Felix. Sang pahlawan yang memang diprogram untuk itu.
Sedangkan Ralph? Selamanya adalah penghancur, karena ia diprogram untuk itu. Namun peran antagonis yang diperankan Ralph merembet ke kehidupan pribadinya. Tidak ada yang ingin jadi temannya. Tidak ada yang peduli padanya. Ralph hidup kesepian di hutan dekat apartemen. Jika kau memberitahu penduduk apartemen, jawabannya sudah pasti, “Bodo amat dengannya”.
Ralph, dari gubuk kecilnya bisa melihat ke jendela-jendela apartemen  yang terang karena cahaya lampu. Disitu ia bisa melihat betapa senangnya penduduk apartemen, berpesta hingga tengah malam, ia juga bisa mendengar –meski samar, musik pengiring dansa dan suara orang-orang, mereka sangat menikmatinya. Tak usah ditanya, tak ada yang pernah mau mengundang Ralph si pengacau.
Padahal, ia hanya ingin kehadirannya diterima dan dielu-elukan seperti Felix yang selalu memperbaiki kerusakan yang disebabkan olehnya. Biar bagaimanapun, kehadiran Ralph tetaplah penting, mengingat Felix tidak akan bisa memperbaiki tanpa adanya kerusakan. Tapi tetap saja penduduk apartemen tidak mau tahu, mungkin maunya tempe, entahlah.
Suatu hari, Ralph nekat menyelundupkan dirinya ke dalam game Call of Duty setelah merampas kostum salah seorang trooper di toilet umum. Tujuannya adalah untuk meraih medali. Medali yang nanti akan ditunjukkannya kepada penduduk apartemen yang sombong tapi lemah. Ralph ingin membuktikan bahwa ia juga bisa mendapat medali kemenangan seperti pahlawan.

Sayangnya, karena dari awal caranya sudah salah, main masuk game lain sembarangan, Ralph mendapat masalah setelah memperoleh medali impiannya. Ia tersesat ke dalam game Sugar Rush. Tempatnya pebalap-pebalap manis. Masalah yang pertama dihadapi Ralph di Sugar Rush, medalinya (yang didapat secara ilegal di game Call of Duty) diambil oleh Vanellope Von Schweetz,  salah satu karakter pebalap  namun mengalami kecacatan. Vanellope berkedip alias glitch. Karena itulah King Candy menyabotase Vanellope dari kompetisi balap.
Masalah selanjutnya, satu-satunya medali Ralph yang telah dirampas Vanellope yang manis (di rambutnya bahkan penuh gula-gula) tapi nakal, dipakai untuk mendaftar perlombaan balap. Dan untuk mendapatkannya kembali, Vanellope harus memenangkan perlombaan. Nah masalahnya lagi, Vanellope tidak punya mobil balap, dan kemampuan mengemudinya membuat Ralph putus asa.
Ralph yang hanya ingin pulang membawa medali secepat mungkin, berusaha membantu Vanellope memenangkan perlombaan. Tapi King Candy berusaha menghalang-halanginya. Siapa sebenarnya King Candy ini? Dan ada apa sebenarnya di antara King Candy dan Vanellope. Sesuatu yang tidak beres terjadi disini.
Tak butuh waktu lama bagi Ralph untuk dekat dengan Vanellope. Gadis kecil ini sebenarnya sedikit bernasib sama dengan dirinya. Vanellope yang cacat dikucilkan, dan tinggal sendiri  di  dalam kawah soda bermentos. Namun ia adalah gadis periang dan optimistis. Dan itu adalah sumber kekuatan. Bukan hanya bagi diri Vanellope, tapi juga Ralph, si penghancur yang juga mencari jati diri.

Ralph boleh saja terus menganggap dirinya penghancur, tidak berguna, dan tidak diinginkan, tapi harus ada yang menyadarkan penduduk apartemen, tanpa Ralph tak ada yang bisa diperbaiki Felix, tanpa Ralph tak ada lagi teriakan “perbaiki, Felix”.

Dan kamu, berhenti berpikiran negatif.
Berhenti melihat kepada orang-orang yang tidak menyukai pendapatmu, yang tidak menganggap kehadiranmu. Tapi berbaliklah.
Di sudut lain ada orang yang menganggapmu berharga.


Trivia
Film ini saya copy dari anak salah satu guru saya di SMK yang kebetulan mampir di sekolah. Jadi ini film sebenarnya sudah lama ya. Saya kadang menemani dia bermain atau sekedar ngobrol di studio. Kita berdua suka sama AKB48, nah kebetulan salah satu lagu AKB48, Sugar Rush adalah soundtrack animasi Wreck-it Ralph. Saya begitu excited saat pertama kali nonton (Ekha banget).
Film animasi ini mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat umum dan mengandung nilai moral terutama untuk anak-anak. Mungkin terdengar klise, tentang siapa yang baik dan siapa yang jahat, ah orang-orang memang suka mencari siapa yang lebih buruk dari dirinya.
Pokoknya saya suka dengan jalan ceritanya, oh dan juga settingnya, sangat manis saat Ralph nyasar ke Sugar Rush dan bertemu Vanellope Von Schweetz, gadis kecil yang punya semangat besar untuk menjadi seorang racer. Sangat sangat direkomendasikan untuk tontonan keluarga.

Wreck It Ralph
Directed : Rich Moore
Producer : Clark Spencer
Production Walt Disney Animation Studios 2012
Cast: Sarah Silverman, John C. Reilly, Jack McBrayer, Jane Lynch, Rich Moore. Alan Tudyk, and more.

Selamat Datang Adik-adik Maba






SELAMAT MENEMPUH HIDUP SEMESTER BARU GAES.

Saya sendiri sudah memasuki semester 5, huaah how time flies

By the way, selamat datang adik-adik maba yang minggu lalu selesai di ospek ciee, selamat berjuang dalam studi, selamat bergulat dalam perantauan, dan selamat bertemu orang-orang baru, ya pokoknya usahakan sampai di “tujuan” dengan selamat hahaha.

Karena oh karena kita tidak tahu, hal apa yang menanti di depan kita.

Tapi kita semua tahu fakta bahwa kehidupan SMA/sederajat berbeda dengan kehidupan perkuliahan. Ada orang yang secara mentalitas belum siap, akhirnya menyerah dan berhenti di tengah jalan, astaga bro begini, kalau mau berhenti di pinggir jalan dong, biar gak bikin jalanan macet, ih apakah Ekha, krik krik.


Kalau bisa diumpamakan nah, kalau bisa, memasuki kehidupan kampus seperti mengikuti The Hunger Games. Kita lagi hidup asyik masyuk tiba-tiba nama kita yang  keluar undiannya. Kalau undian arisan sih enak, bisa pergi kanmakan, tapi disini kita harus berjuang, mau tak mau harus belajar cara untuk bertahan hidup, juga bertahan menahan godaan. Terutama bagi anak-anak perantauan yang jauh dari keluarganya.

Di The Hunger Games, ada sejumlah aturan main yang dirancang oleh Capitol. Begitu pun di kampus, kita semua berada dalam lingkaran, persegi, segitiga, atau apa pun bentuknya, kita mahasiswa berada di dalam BATAS yang telah dibuat oleh birokrasi. Yang perlu kita lakukan hanya menjaga langkah agar tidak offside, patuh sebagaimana seorang pengendara diatur marka jalan yang bisu. Jadi kedengarannya seperti mahasiswa bukan mengikuti sistem, tapi bagian dari sistem itu sendiri. Eh bicara apa saya ini.

Dan lagi di The Hunger Games, aturan sempat diubah seenak jidat demi mendongkrak sensualitas permainan, demi kepuasaan penonton, tanpa membuka mata dengan penderitaan dan resiko yang dihadapi para tribut, ah jangan lupa tribut-tribut ini punya keluarga. Bayangkan anak-anak kalian, yang masih muda, diambil secara acak mewakili distrik untuk kemudian diadu, ini manusia, bukan ayam jago men.

Jika di filmnya para tribut mau tak mau harus membunuh atau dibunuh secara harfiah, tapi di kehidupan kampus, yang bisa saja terbunuh adalah kebebasan, atau yang paling sedihnya, karakter. Karakter mahasiswa akan perlahan-lahan mati suri. Sebenarnya karakter itu sendiri apa? Kebebasan apa? Entahlah. Seseorang tolong jelaskan.


Kalau diumpamakan lagi, duh maafkan, dari tadi saya bisanya cuma berumpama. Kita semua adalah anak yang disuapi ikan teri, dari kepala, badan sampai ekor semua masuk ke mulut, bodo amat ikan terinya digoreng atau direbus, dipancing di laut atau dibeli di pasar. Seperti itu. 

Terlepas dari itu, terserah kalian sih bagaimana menginterpretasinya, atau kalian mau berbagi pemikiran? Boleh lah. Kebetulan saya suka mendengarkan.

Dear adik-adik maba, selamat menyandang gelar “maha”siswa, belajarlah dengan baik, kalian harus dan pasti bisa lebih baik.

Jangan jadi saya. Jangan. Ah apalah saya ini, hanya acar di meja prasmanan.


Anyway, sekali lagi selamat datang di semester baru!