Monday, 28 November 2016

The Making of The Fall of The Imam Movie



Setelah beberapa rapat yang cukup alot perihal menentukan waktu dan lokasi di mana AG34 (kelas kami) akan melakukan proses syuting film, akhirnya berhasil ditetapkan, kami akan berangkat Rabu, 23 November 2016 dan pulang tepat seminggu kemudian di hari Selasa, 29 November 2016. Lokasinya berpusat di satu tempat saja, yaitu Rammang-rammang, Kabupaten Maros.

Banyak pertimbangan dan perdebatan sebelum akhirnya kami memutuskan take film di sana. Salah satunya akomodasi 45 orang ke sana. Kelas kami bukan kelas yang ingin repot-repot menghadapi "masalah keuangan yang tidak mencukupi". Kami tidak ingin menyusahkan diri menghabiskan dana yang begitu banyaknya. Semester 5 masih panjang. Sehingga keputusan untuk take film di Kabupaten Maros kami rasa sudah tepat. 

Pembuatan film ini sendiri adalah pengalaman baru bagi sebagian besar dari kami. Sebagian kecilnya lagi, punya sedikit pengalaman dan gambaran tentang pembuatan film. 

Film The Fall of The Imam yang hasil jadi keseluruhan filmnya berdurasi lima puluh menit ini dibuat "hanya" selama enam hari, dengan total 14 scene. 

Masa operasi yang sangat singkat dan tidak memungkinkan bagi kami untuk menambah hari, membuat kami harus terus bergerak. Tapi ada masalah penting yang mau tidak mau harus kami ladeni. Yaitu masalah naskah. Naskah yang kami bawa ke Rammang-rammang masih naskah mentah, sehingga setiap malam tim naskah harus begadang dan berpikir bersama mengenai naskah. Gila kan? Jadi sebagian dialog dirangkai on the spot. 

Tapi pengalaman di balik pembuatan film The Fall of The Imam takkan bisa kami lupakan. 

Oh iya, dengan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya, dalam produksi film TFOI ini kami dibantu oleh adik dosen prose kami, Mam Ilmi, yaitu bang Iqram, beserta Kak Madi, Kak Kay, dan Kak Toki. Di balik semua keterbatasan, hambatan, serta kesenangan dalam produksi film ini, kami mengucapkan terima kasih dan maaf apabila ada salah.


Penasaran bagaimana jadinya film ini?
Tunggu postingannya Januari tahun depan^^


Update 31 Januari 2017:
Trailer filmnya bisa dilihat di : The Premier of The Fall of The Imam  

Tuesday, 8 November 2016

Perempuan Patah Hati yang Kemarin Kehilangan Bukunya di Leang-leang




Jadi beberapa minggu lalu aku jalan-jalan ke Kabupaten Maros tepatnya di salah satu taman prasejarahnya, Leang-leang. Ke sananya berempat sama Riri, Mute, dan Arjum. Gak dalam rangka apa-apa sih, cuma mau ke sana aja, refreshing. Sebenarnya ini kali kedua aku ke sana, Februari kemarin kan sempat ke sini juga. Cuma DUA KALI mana bisa puas keliling Leang-leang.

Malam sebelumnya aku begadang bikin orderan scrapframe, itupun masih lanjut pagi harinya, trus mandi dan langsung cus ke Leang-leang. Makanya pas sampai di sana aku mager, pengennya baring terus.

Apalagi bertepatan hari Minggu, banyak anak-anak sekolahan study tour ke sini kan, duh, bikin gak leluasa. Jadi, sembari menunggu pengunjung sepi, kami menepi di taman yang terletak di seberang sungai, yang sering ke sana pasti tahu tempatnya.

Dengan Ummah

Sampai sore aku tidak beranjak dari sana, menghindari teriknya matahari. Selain itu, mana sanggup move coba kalau dibuai angin sepoi-sepoi begitu. Jadi, aku jauh-jauh dibawa ke Leang-leang cuma nyender di bawah pohon sambil baca bukunya Eka Kurniawan, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Trus gimana dong? Soalnya udah posisi wuenak banget. Hahaha.


Malah di bawah pohon itu aku berhasil menyelesaikan buku tersebut. Akhirnya punya situasi yang kondusif untuk membaca novel tanpa merasa dibebani pikiran tentang tugas-tugas kampus, ehh, tugas? Apa itu tugas? Kata kerja kah? Kata benda? Uh.

Novel PPHKMCMM (maaf disingkat, mlz ngetiknya mz/mb *&%@$#$@!) merupakan kumpulan cerpen, yang andai ini kedai makanan, aku dengan senang hati berkunjung ke sana setiap waktu, memesan semua menunya, dan menikmati setiap kunyahanku. Eh. ANALOGI MACAM APA INI?

Oke, serius.

Aku suka buku ini.

Hampir sama sukanya seperti mendengar ceritamu, Om.

Kenapa hampir? Karena meski buku ini sangat bagus menurutku, tapi ceritamu tidak pernah terhalang lembaran-lembaran kertas HVS. Ceritamu bisa kautorehkan di mana kau suka, sepanjang apa kau mau. Oke ini gombal hahaha.


Ada 15 cerpen yang tidak biasa-biasa saja di dalamnya, yaitu:



Gerimis yang Sederhana (2007)

Gincu Ini Merah, Sayang (2007)

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2012)

Penafsir Kebahagiaan (2007)

Membuat Senang Seekor Gajah (2014)

Jangan Kencing di Sini (2012)

Tiga Kematian Marsilam (2006)

Cerita Batu (2014)

La Cage aux Folles (2007)

Setiap Anjing Boleh Berbahagia (2013)

Kapten Bebek Hijau (2011-2013)

Teka-Teki Silang (2006)

Membakar Api (2009)

Pelajaran Memelihara Burung Beo (2007)

Pengantar Tidur Panjang (2009)

Tahu kenapa judul postingannya Perempuan Patah Hati yang Kemarin Kehilangan Bukunya di Leang-leang?

Sebab bukunya memang hilang di sana. Hiks.

Setelah bersenang-senang di bawah teduhnya pohon, ditemani angin syahdu yang sesekali mengundang kantuk, di saat aku tersenyum-senyum setelah menghabiskan setiap lembaran ceritanya, buku itu menghilang. 

Sebenarnya sebelum keluar dari Leang-leang aku cek tasku, dan tidak menemukan buku tersebut, aku dengan pede-nya mengira buku itu mungkin terbawa di temanku yang lain. Sotoy, haha. Padahal yang bawa tas ke sana hanya diriku.

Rasanya kok kayak gak rela ya? Hahaha.


Instagram Ekha Nurul Hudaya (@ekhanurulh)

Di antara kumpulan cerpen tersebut, aku paling suka dan paling ingat dengan cerpen Cerita Batu, Kapten Bebek Hijau, dan Teka Teki Silang.

Tulisan Eka Kurniawan tidak akan pernah bisa kutolak. Sebelum membaca cerpen Cerita Batu itu misalnya, aku juga pernah berandai-andai, kira-kira, apa yang dipikirkan sebongkah batu yang setengahnya tercelup di sungai, membelokkan arus air (tentu saja pikiran itu kunikmati sendiri, entah bagaimana cara membaginya dengan orang lain). Bagaimana? Apa batu tersebut sangat menikmati pijatan air, atau malah khawatir tubuhnya meringkih terkikis air, membuatnya mengecil.

Cukup itu aja sih.

Jadi, kapan kita ke Leang-leang bareng?
 

Thursday, 3 November 2016

Norwegian Wood & Remaja Kepala Dua




Norwegian Wood

Haruki Murakami
Original title: Noruwei no Mori
Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerjemah: Jonjon Johana; Penyunting: Yul Hamiyati
Cetakan keenam, Agustus 2015

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.



Dulu sekali, sebelum muncul niatan untuk membaca buku terjemahan ini, aku hanya menduga-duga. Dari judulnya, Norwegian Wood, aku mengira isinya bercerita tentang hidup seorang tukang kayu atau desainer interior atau apalah. Apeu.

Hingga suatu hari aku membaca sinopsisnya di Goodreads dan beberapa blog buku, barulah disitu aku tahu, gak ada tuh tukang kayu-tukang kayu-an sama sekali. Sebenarnya aku mauuuu sekali baca bukunya Murakami yang lain, Sputnik Sweetheart dan IQ84 (absolutely ya) tapi kebetulan stoknya lagi kosong. Ada sih jilid 2 dan 3, tapi yang bener aja dong ya. 

Buku ini pun aku gak beli (ye yeeee), tapi hadiah pas ultah dari seseorang (sebut jangan, ya?). Dan Norwegian Wood menjadi buku Murakami pertamaku.

Begitu selesai membaca buku ini, aku cek reviewnya di Goodreads, ternyata komentarnya seru, hampir seperti instagramnya artis tanah air ajee, ada pro ada kontra. Yang frontal juga banyaakk. Begini ya, setiap orang punya perspektif punya sense yang berbeda, dan tentu aja, konsumsi buku yang berbeda. Misalkan seorang comic lover, dan seorang buku-filosofis freak, ketika diberikan satu novel yang sama, hasilnya tentu saja beda bu, tapi bukan berarti tidak bisa mendekati.

Ini aku bicara apa ya? Sorry tadi sore abis ujan-ujanan (trus?) jadi gitu deh wqwq




Kisah dibuka tokoh utama, yang berada dalam pesawat Boeing 747 dan seketika ingatannya terlempar ke masa remajanya hampir 20 tahun yang lalu. Ketika Watanabe Toru duduk di bangku kuliah.

Flashback Karena Dengar Lagu

Sejak jaman dahulu kala, aku percaya mendengar lagu tertentu bisa membangkitkan memori tertentu. Misal dengar lagunya Sorry Sorry-nya Suju, aku tiba-tiba merasa jadi anak kelas 8 SMP lagi, yang pusingnya paling cuma karena salah roster mapel (Ekha banget yaampun beb). Sekarang? jangan ditanya plz.

Bukan lagu aja sih, barang-barang atau kegiatan tertentu juga bisa memancing kita untuk flashback. Iya kan? Bahkan ada kejadian orang yang menyimpan struk belanjanya pas ke luar negeri untuk pertama kalinya, ada yang simpan batu dari pulau favoritnya. Biar apa? Tau sendiri lah.





Itu juga yang dialami oleh Watanabe Toru saat mendengar lagu Norwegian Wood-nya Beatles. Bukan lagu kesukaannya dia sih. Satu-satunya kaitan Norwegian Wood dengan Watanabe karena lagu itu yang mengingatkan dia akan sosok Naoko. Cinta pertamanya.
Dan cinta pertama memang selalu terkenang. Jadi gausah repot-repot melupakan cinta pertama yang (misalnya) gagal. Move on gak perlu melupakan, tapi perkara merelakan #tjiahh. Demi melanjutkan kisah. Demi kelangsungan hidup berwarganegara yang damai.