Saturday, 31 December 2016

5 Desember (4): A Year in Review



Hari ini memang sudah bukan tanggal 5 Desember, tapi tanggal 31. Artinya, hari terakhir di tahun masehi 2016. Tulisan ini harusnya aku posting 5 Desember kemarin ya? Nah, itu bukti bahwa saking sibuknya aku bulan ini, aku.. ah alasan, sudahlah. Manusia memang seperti itu, maunya mencari pembenaran tapi kadang enggan menerima alasan. Seperti saat ini.

Atau seperti kemarin gaes.

Tugas video simulasi Judicial Interpreting untuk mata kuliah Interpreting. Baik kami akui ini pure our carelessness. Videonya harus dikumpul saat itu juga, tidak ada alasan ini, tidak ada kebijaksanaan itu. Sementara video kami masih diedit saat itu. Masih rendering, kalau ditunggu kira-kira 20 menitan lagi. Kemudian dosennya bilang (kira-kira seperti ini), “Kalian sudah diberi waktu yang cukup untuk mengerjakan video, tapi sekarang banyak dari kalian yang belum siap.” Dan  dia tidak bertanya seperti ini, “Kemana saja kalian sampai baru mengerjakan tugas ini?”. Karena memang beliau tidak butuh alasan. Oke fakta, kita semua tahu angkatan 2014 sedang disibukkan dengan persiapan pementasan Januari (nanti). Jadi untuk apa lagi bertanya-tanya alasan dibalik ketidakbecusan kami mengumpulkan tugas? hah akupadamu mam Ariana.

*

Gaes, hari ini tidak akan ada basabasi busuk semacam, “wah tidak terasa ya, besok tahun 2017, padahal rasanya baru kemarin kita tahun baruan di kost-nya Rina.”

Karena nyatanya memang tidak.

Januari ke Februari, kemudian Maret lalu April dan seterusnya sangat ‘terasa’. Tahun ini begitu padat. Ada begitu banyak peristiwa, dan banyak perjalanan. Bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan mental.

Terutama Desember. Bulan yang selalu punya daya tarik emosional. Bisa jadi karena anak-anak sekolah sudah terima rapor lantas tidak repot lagi bangun pagi. Bisa jadi karena ‘orang-orang sibuk’ terharu membayangkan mereka bisa bersantai, keluar sejenak dari rutinitas.

*

Perihal tahun 2016, tahun tersebut dimulai dengan sedikit drama. Entah kenapa Januari saat itu moodku benar-benar kacau. EQ-ku bisa dibilang baring di titik terendah. Diriku sudah keterlaluan melankolis. Sangat tidak mengenakkan. Contohnya seperti ini:

Pagi-pagi di kampus aku mules, ini aku kenapa ya? Apa aku sakit?
Liat di grup Line ramai sedang aku tidak tahu apapun, ini mereka kenapa ya? Kemudian gara-garanya berbagai nethink bermunculan. Kenapa tidak ada yang mencoba melibatkan aku? Apa aku kurang seru? Atau jangan-jangan aku tidak penting di grup? Dan sederet pikiran-pikiran kotor lainnya.

Kemelankolisan itu menyebabkan masalah.