Tuesday, 29 August 2017

Perempuan, Jaga Diri Kalian

Saya sangat sedih membaca salah satu artikel di Line Today kemarin. Sangat sedih sekaligus sangat marah. Ada kasus tewasnya seorang gadis yang baru menginjak usia 21 tahun, di tangan pacarnya sendiri. Tragisnya, ia dibunuh dalam keadaan hamil 6 bulan setelah menagih tanggung jawab sang pacar⎻pelaku pembunuhan. Di mana kemanusiaan si pelaku?

Saya sampai bingung menjelaskan perasaanku. Kenapa? Bagaimana bisa ia sampai hati melakukannya? Membunuh seorang perempuan. Dan janin dalam rahimnya⎻yang juga merupakan anaknya.

Kita semua pasti menyimpan komentar seperti, ”bodoh sekali perempuan itu”, atau “si lelaki mau enaknya saja”. Ya memang seperti itulah mereka-mereka di mata kita. Korban dan pelaku sama saja bodohnya.

Kenyataannya sampai saat ini, perempuan masih terjebak dalam marjinal yang luhur. Bagaimana mereka membiarkan diperlakukan oleh dominasi, dan bagaimana mereka juga memperlakukan sesama perempuan dan diri mereka sendiri. Emansipasi biasanya  lebih diteriakkan kencang dalam urusan mencari kerja dan uang.

Beberapa bulan lalu, saya sedang di perjalanan pulang dari bekerja. Saat itu jalanan pukul 9 malam sangat ramai karena ada festival Ramadhan dan juga orang-orang yang pulang dari shalat tarwih. Beberapa meter di depanku, ada seorang perempuan yang kukenali sebagai adik kelasku di SMK. Ia, sudah beberapa minggu mengenakan jilbab syar’i, dibonceng vespa oleh pacarnya. Karena ingin menyapa, maka kulajukan motorku sejajar dengan mereka. Tapi niatku untuk menyapa mereka kutahan. Saya bingung. Meskipun berjilbab syar’i tidak bisa dihubungkan dengan akhlak seseorang, tapi bukankan itu berarti saat ia memutuskan untuk mengenakan jilbab panjang menutupi dirinya, ia ingin melindungi dirinya?  Tapi apa yang coba ia lindungi, jika dibonceng dengan pacar dengan posisi memeluk erat seperti anak kecil yang takut jatuh dari motor?

Perempuan, adalah makhluk penakut sekaligus pemberani.
Ia berani melakukan fantasinya tapi tetap tidak berdaya jika diperhadapkan dengan ancaman resikonya.

Masih bimbang, sepertinya tulisan ini cukup sekian.


Makassar, 29 Agustus 2017, setelah uap terakhir di cangkir teh pupus.