Thursday, 1 March 2018

Sebuah Pertemanan yang Sehat

sourch



Tulisan ini akan dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan.
Seperti, apa itu teman? Bagaimana kira-kira pengertian sebuah pertemanan yang kalian yakini? Apakah ia sesuatu yang selama ini tak terkonsep, dijalani begitu saja, kemudian bagaimana sesuatu dan atau seseorang diyakini bisa disebut sebagai teman?

Orang-orang pasti jawabnya, teman adalah ia yang berada di sisi kita, menemani kita melalui berbagai peristiwa historis di kehidupan kita. Ada, saat kita senang atau sedih, bahkan bisa jadi teman itu menjadi alasan kita merasakan berbagai emosi.

Gambaran yang sempurna mengenai teman. Benarkah sesederhana itu? 


 

Bagaimana jika setelah mempertanyakan mengenai definisi teman, kita juga mencoba memikirkan verba pertemanan, apa yang dikerjakannya, yang dikenainya, dan juga bagaimana kita menggambarkan diri kita sendiri sebagai teman?

Secara visual, kita bisa melihat seseorang dekat dengan orang lain (kita sepakat berbicara tentang teman berupa manusia daripada selain itu). Ia dekat bisa karena kehidupan mereka kebetulan di satu lingkungan yang sama sehingga sengaja tak sengaja akan terus bertemu, kalaupun terpisah jarak, teman dan temannya akan tetap terhubung sejak mereka memiliki ikatan emosional atas pengalaman terdahulu. Ada kok orang-orang terlibat dalam satu lingkungan yang sama dan bersama-sama melewati satu peristiwa tapi tidak berteman, ada.

Saya kenal satu orang (nah, kalau ini kenal saja, bisa dibilang satu lingkungan tapi secara batin kami tidak terikat sama sekali). Padaku ia pernah bercerita jika ia ingin punya banyak teman. Ia ingin punya banyak teman, tapi yang ia tidak sadari adalah, ia sibuk mengumpulkan nama-nama teman, tanpa ia benar-benar berteman dengan siapapun dari mereka. Saya juga tidak merasa ia pantas dijadikan teman. Beberapa waktu kemudian saya kembali mengingat hal tersebut. Kenapa ya saya  berpikir seperti itu. 

Saya lalu mencoba memposisikan diri saya, atau bahasanya introspeksi diri. Selama ini saya tipe orang yang terbuka terhadap siapa saja yang mengajak kenalan, saya biasanya tidak menilai seseorang dari impresi pertama dan sekelasnya itu. Karena saya merasa harus mengenal orang itu dulu sebelum memutuskan bagaimana bersikap kemudian.

Saya berteman dengan beberapa orang sejak SD dan SMP hingga sekarang sudah memasuki semester tingkat akhir. Punya pengalaman berteman dengan banyak orang bertahun-tahun tidak lantas menjadikanmu paham memulai berteman dengan setiap orang baru.

Belakangan pun saya bingung menempatkan diri dalam satu lingkaran. Saya sudah mencoba jungkir balik mencoba segala sisi lingkaran, membiarkan diri terbawa arus, tapi belum menuntaskan kebingungan tersebut. Saya senang mendengar, menyimak, mendengar, menyimak karena saya paham banyak orang yang luput mendengar sedang ia sangat ingin didengar.

Bagaimana akhirnya saya terlalu sering mendengar hingga lupa caranya berbicara. Satu lingkaran itu terasa tidak sehat. Pun saat mereka menyadari hal tersebut berkali-kali, namun belum ada perubahan berarti. Sikap saya masih sama, menyimak keputusan apapun yang mereka ambil, karena setelah bersama beberapa waktu lamanya, saya bisa membaca jalan pikiran mereka. Itu satu kelebihan dari mendengar dan menyimak. Setiap suara yang hendak kulontarkan pada mereka, rasa-rasanya saya sudah bisa tahu setiap respon, setiap arah pikiran mereka. Entah suatu saat di masa depan akan bersua juga suara itu.

Sampai saat ini?
Biarkan saya terus mendengar.
Lingkaran kecil itu, menunggu keajaiban untuk kembali sembuh.

Akhirnya saya masih belum bisa memahami definisi untuk verba adverbia “teman”.

Oh, iya, jangan batasi orang dengan lingkaran buatan kalian. Jika kalian rasa itu "lebay", coba deh, sekali saja berdiri dan melihat dari luar sini.


Sebenarnya saya sedang ingin lanjut mengerjakan proposal, tapi tiba-tiba menulis ini, pfft.

Di rumah, setelah membuat janji dengan dosen pembimbing,  1 Maret 2018.